Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam riwayat yang sampai kepada kami, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala tertawa atas keputusasaan kalian dan cepatnya pengabulan doa kalian.
Ya. Dalam hadis ini juga terdapat penegasan bahwa Allah tertawa karena keputusasaan para makhluk-Nya. Yakni ketika para makhluk—apabila hujan tertahan dan bumi mengalami kekeringan—mereka menjadi putus asa dan hilang harapan, serta menganggap turunnya hujan merupakan hal yang mustahil. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa atas keadaan tersebut, tertawa kepada hamba-hamba-Nya, sementara Allah melihat mereka dalam keadaan putus asa dan kehilangan harapan.
Allah terus tertawa karena Dia mengetahui jalan keluar mereka sudah dekat. Kemudian Allah menurunkan hujan kepada mereka, menumbuhkan rerumputan dan tanaman bagi mereka serta melimpahkan air yang mencukupi bagi kehidupan mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa, dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman, “Allahlah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan, kemudian Dia membentangkannya di langit dan menjadikannya bergumpal-gumpal; maka engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka apabila Dia menurunkannya kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, seketika itu mereka bergembira. Padahal sungguh sebelumnya, sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.” (QS. Ar-Rum: 48–49).
Yakni mereka menyerah dan hilang harapan. “Padahal sungguh sebelumnya, sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.” “Maka perhatikanlah jejak-jejak rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi yang sebelumnya telah mati.” (QS. Ar-Rum: 49–50). Bagaimana Allah menghidupkan kembali bumi setelah sebelumnya mati? Ayat-ayat ini sejalan dengan kandungan hadis tersebut, bahwa para hamba ketika hujan tertahan, mereka diliputi keputusasaan dan kehilangan harapan, sementara Allah Jalla wa ‘Ala tertawa atas keadaan itu, karena Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka sudah sangat dekat.
=====
وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا بَلَغَنَا إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيَضْحَكُ مِنْ أَزَلِكُمْ وَقُنُوطِكُمْ وَسُرْعَةِ إِجَابَتِكُمْ
نَعَمْ وَهَذَا أَيْضًا فِيهِ إِثْبَاتٌ أَنَّ اللَّهَ يَضْحَكُ مِنْ أَزَلِ الْمَخْلُوقِيْنَ يَعْنِي يَأْسِهِمْ الْمَخْلُوقُونُ الْخَلْقُ إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ وَأَجْدَبَتِ الأَرْضُ فَإِنَّهُمْ يَيْأَسُونَ وَيَقْنَطُونَ وَيَسْتَبْعِدُوْنَ نُزُولَ الْمَطَرِ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ يَضْحَكُ مِنْ عِبَادِهِ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ آزِلِينَ قَانِطِيْنَ
فَيَظَلُّ يَضْحَكُ يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ وَيُنْزِلُ عَلَيْهِمُ الْمَطَرَ وَيُنْبِتُ لَهُمْ الْكَلَأَ وَالزُّرُوعَ وَيُوَفِّرُ لَهُمْ الْمِيَاهَ كَمَا قَالَ تَعَالَى وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ
وَقَالَ سُبْحَانَهُ اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ
يَعْنِي آيِسِيْنَ قَانِطِيْنَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ فَانظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا فَهَذَا مِثْلُ مَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ مِنْ أَنَّ الْعِبَادَ إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ يَحْصُلُ عِنْدَهُمْ يَأْسٌ وَقُنُوطٌ وَاللَّهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ